Story

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Minggu, 19 Juni 2016

Tag:

Sosiologi Nyaba ka Garut Kampung Dukuh


Oleh    : Anis Najmunnisa
Mahasiswa Pendidikan Sosiologi
Universitas Pendidikan Indonesia


      Kuliah kerja lapangan (KKL) Garut. Pada hari sabtu, 16 april 2016, mahasiswa pendidikan sosiologi angkatan 2013 pergi berkunjung ke Kabupaten Garut. Tepatnya, kampung adat dukuh yang terletak di Desa Ciroyom, Kecamatan Cikelet, Garut, Jawa Barat. Ada yang unik dari nama kampung ini, dukuh, namun dalam arti yang sebenarnya, di kampung ini tidak ada buah dukuh sebagaimana namanya, arti dari dukuh disini adalah padukuhan dalam Bahasa Sunda sama dengan tempat tinggal, seperti halnya istilah pasepuhan dan padepokan. Sebanyak 27 peserta yang terdiri dari kelas A dan kelas B, menjalankan KKL Tematik ini dengan sukses. Sebagaimana mata kuliah yang di tempuh, kami tidak hanya jalan-jalan berpariwisata, namun kegiatan ini syarat makna dan mendukung kegiatan lapangan yang menunjang kualitas para calon sosiolog. 
          Kami memulai perjalanan di Bandung berangkat pada pukul 03.00 WIB, kami beristirahat dan sholat subuh tepat di Mesjid Agung Garut. Setibanya di Garut, kami di sambut oleh hawa dingin khas Kota ini yang memiliki banyak pegunungan. Pada pukul 06.00 WIB, kami melanjutkan perjalanan menuju Santolo selama 4 jam, jalan yang kami lalui menurut Katon Bagaskoro “Bagai negeri di atas awan”. Pemandangan alam yang indah dan masih asri dapat kami saksikan, tak lupa gunung papandayan yang menampakkan keindahan kawahnya dari kejauhan, gunung cikuray, dan beberapa air terjun yang masih mengalir deras dan jernih. Setibanya di Santolo, kami bersiap-siap pada perjalanan selanjutnya menuju kampung adat dukuh. Banyak kisah dan cerita menarik dari para peserta KKL Garut, selama perjalanan ini, kami melakukan perjalanan dengan menaiki mobil bak sekitar 15 km. Jalan yang kami lalui berupa jalan perkebunan, akses yang sulit, sarana dan prasarana jalan yang kurang memadai, sehingga sulit bila kendaraan saling berpapasan pada arah berlawanan, karena kecilnya ruas jalan. 
         Perjalanan ini memaksa kami, untuk berhenti beberapa saat karena mobil bak yang kami tumpangi beberapa kali mogok. Setibanya di gerbang utama menuju kampung adat dukuh ini, kami melanjutkan perjalanan kaki sekitar setengah km dari akses jalan. Mulai terlihat suasana dan kondisi bangunan rumah yang terbuat dari bilik dan kayu, namun pada awal perjalanan kami melihat atap bangunan rumah warga sudah banyak yang menggunakan bahan genteng dan mengunakan listrik. Ternyata, wilayah itu merupakan bagian kampung adat dukuh luar yang mulai memisahkan diri dengan kampung adat dukuh dalam. Setibanya di kampung dukuh dalam, mahasiswa pendidikan sosiologi KKL Garut ini, di sambut baik oleh pupuhu (ketua adat) dan warga. Setelah di jamu, kami melakukan kegiatan ngagunem (ngobrol santai) bersama pupuhu yang biasa di sebut Mama. Menarik sekali karena pertanyaan-pertanyaan yang kami lontarkan menggunakan teknik snowball, saling menyaut dan mengalir sehingga kami mendapatkan informasi yang banyak serta lengkap yang datang langsung dari pupuhu kampung adat dukuh ini. 
         Sejarah kampung adat dukuh ini terdiri dari 2 sumber, yaitu secara lisan dan tulisan. Sejarah secara lisan, bermula pada Syekh Abdul Jalil yang sejak kecil memiliki kelebihan telah mampu pergi ke berbagai mancanegara dan Mekah. Beliau di didik di Mekah dari kecil sampai dewasa, hingga mumpuni ilmunya, lalu beliau di beri tugas oleh gurunya agar kembali ke Jawa. Setelah itu, kisah ini menjadi tertulis saat perjalanan Syekh setibanya pulang ke Jawa. Beliau sempat ke Mataram dulu, dan ditawari sebagai ketua agama di Sumedang. Namun, Syekh mengajukan 2 syarat yaitu pemerintah dan rakyat harus bersatu serta harus menggunakan hukum syara. Namun, baru beberapa tahun beliau menjabat sebagai ketua agama, dan salah satu anggota pemerintahannya ada yang melanggar hukum syara. Akhirnya, Syekh memilih mengundurkan diri dari jabatan ketua agama. Beliau pindah ke Cikajang sekitar 3-4 tahun, lalu pindah ke Pameungpeuk, dan beliau melihat cahaya di tanah Pameungpeuk, hingga daerah ini menjadi sebuah kampung adat dukuh, tanah adat, tanah muhayat. 
               Warga kampung dukuh ini memeluk agama islam yang bermadzhab syafi’i, masyarakatnya terlihat sangat religius dan menjalankan syariat islam secara baik. Hal ini terlihat pada pantangan-pantangan bahwa perempuan dan laki-laki tidak boleh berdekat-dekatan harus ada hijab, serta kegiatan keagamaan pada anak-anak yang masih bersekolah rutin dilaksanakan di masjid dan madrasah, sekalipun itu hari minggu kegiatan keagamaan tetap berjalan sebagaimana hari biasa dilaksanakan, namun pada hari minggu, kegiatan keagamaan mengkaji kitab suci Al-Qur’an dilaksanakan pada pagi hari hingga pukul 07.00 WIB. Adapun bentuk bangunan rumah di Kampung Dukuh berbentuk persegi, hal ini melambangkan pada 4 madzhab yaitu, Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Hambali, dan Imam Hanafi. Setiap tanggal 14 maulud melakukan ritual penanaman cai (penanaman air), ritual ini berfungsi untuk menjaga dan melestarikan air, karena semua manusia di bumi ini membutuhkan air. Setelah ngagunem, kami melakukan wawancara pada warga dengan cara menyebar sesuai dengan kelompoknya masing-masing. Keesokan harinya, kami berpamitan dengan pupuhu dan warga kampung dukuh, sebelum kembali ke Bandung, kami berjalan-jalan dahulu di pantai, dari pantai Santolo menyebrang menaiki perahu dayung menuju pantai Sayang Heulang, perjalanan melelahkan kami terbayar oleh ramahnya penerimaan warga kampung dukuh dan bermain-main di pantai bersama.

About An-Najm

Hi, My Name is Hafeez. I am a webdesigner, blogspot developer and UI designer. I am a certified Themeforest top contributor and popular at JavaScript engineers. We have a team of professinal programmers, developers work together and make unique blogger templates.

0 komentar:

Posting Komentar