Story

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Sabtu, 02 Juli 2016

Menitipkan Doa

Tanganku tanganmu
Menengadahkan permintaan pada Tuhan
Kelak akan dipersatukan
Dalam doaku ada namamu
Dalam doamu ada namaku
Takdir bergulir merekatkan
Embus angin membawa harapan sama
Menjadi satu jawaban doa
Kalimat harap mengayuh bagai pedal sepeda
Semakin dekat mengantarkan
Saat kita sampai
Aku tetap melakukan hal sama
Mendoakanmu 
Published: By: An-Najm - 07.34

Harta Berharga




Mamah, Bapak, terima kasih telah menjadi harta berharga dalam hidup, menjaga, merawat, memperhatikan, dan mengawasimu adalah bagian dari tugas seorang anak. Mah, Pak, setiap harta berharga yang dimiliki seseorang, pasti akan dijaga baik-baik, bila harta berharga itu terletak padamu, izinkan untuk berbuat baik dan berbakti padamu, karena tak akan pernah mampu terbalas dengan apapun, kecuali sedikitnya dengan bakti seorang anak pada orang tua. Hanya, sayangnya....anakmu juga manusia, kadang berbuat hilap, salah, membuatmu terluka, berdosa. Mah, Pak, disamping usaha untuk memuliakanmu, ada hal yang akan membuatmu lebih mulia dan mendapatkan pertolongan serta penjagaan, dari kekuatan yang tidak dimiliki manusia, dan makhluk apapun, menitipkanmu lewat doa yang dipanjatkan pada Tuhan. Bukankah itu, hal yang dilakukan olehmu dalam penjagaan anakmu. Hingga yang terasa adalah kemudahan, kemudahan, serta pertolongan, yang entah darimana datangnya. Mungkin, saat itu anakmu lupa, dalam setiap kemudahan yang dilaluinya adalah bagian dari harapan-harapan yang senantiasa selalu dipanjatkan dalam sujudmu, di waktu sepertiga malammu, kekhusyuanmu merayu Tuhan, hingga Tuhan rela mengabulkan permintaanmu, dari makhluk suci sepertimu. Tidak mampu berkata-kata, hanya rindu berada dalam dekap hangatmu.
                                               
Tahukah, hal yang membuatku merasa paling malang adalah
Air matamu, terluka oleh ulahku
Published: By: An-Najm - 07.34

Minggu, 19 Juni 2016

Sosiologi Nyaba ka Garut Kampung Dukuh


Oleh    : Anis Najmunnisa
Mahasiswa Pendidikan Sosiologi
Universitas Pendidikan Indonesia


      Kuliah kerja lapangan (KKL) Garut. Pada hari sabtu, 16 april 2016, mahasiswa pendidikan sosiologi angkatan 2013 pergi berkunjung ke Kabupaten Garut. Tepatnya, kampung adat dukuh yang terletak di Desa Ciroyom, Kecamatan Cikelet, Garut, Jawa Barat. Ada yang unik dari nama kampung ini, dukuh, namun dalam arti yang sebenarnya, di kampung ini tidak ada buah dukuh sebagaimana namanya, arti dari dukuh disini adalah padukuhan dalam Bahasa Sunda sama dengan tempat tinggal, seperti halnya istilah pasepuhan dan padepokan. Sebanyak 27 peserta yang terdiri dari kelas A dan kelas B, menjalankan KKL Tematik ini dengan sukses. Sebagaimana mata kuliah yang di tempuh, kami tidak hanya jalan-jalan berpariwisata, namun kegiatan ini syarat makna dan mendukung kegiatan lapangan yang menunjang kualitas para calon sosiolog. 
          Kami memulai perjalanan di Bandung berangkat pada pukul 03.00 WIB, kami beristirahat dan sholat subuh tepat di Mesjid Agung Garut. Setibanya di Garut, kami di sambut oleh hawa dingin khas Kota ini yang memiliki banyak pegunungan. Pada pukul 06.00 WIB, kami melanjutkan perjalanan menuju Santolo selama 4 jam, jalan yang kami lalui menurut Katon Bagaskoro “Bagai negeri di atas awan”. Pemandangan alam yang indah dan masih asri dapat kami saksikan, tak lupa gunung papandayan yang menampakkan keindahan kawahnya dari kejauhan, gunung cikuray, dan beberapa air terjun yang masih mengalir deras dan jernih. Setibanya di Santolo, kami bersiap-siap pada perjalanan selanjutnya menuju kampung adat dukuh. Banyak kisah dan cerita menarik dari para peserta KKL Garut, selama perjalanan ini, kami melakukan perjalanan dengan menaiki mobil bak sekitar 15 km. Jalan yang kami lalui berupa jalan perkebunan, akses yang sulit, sarana dan prasarana jalan yang kurang memadai, sehingga sulit bila kendaraan saling berpapasan pada arah berlawanan, karena kecilnya ruas jalan. 
         Perjalanan ini memaksa kami, untuk berhenti beberapa saat karena mobil bak yang kami tumpangi beberapa kali mogok. Setibanya di gerbang utama menuju kampung adat dukuh ini, kami melanjutkan perjalanan kaki sekitar setengah km dari akses jalan. Mulai terlihat suasana dan kondisi bangunan rumah yang terbuat dari bilik dan kayu, namun pada awal perjalanan kami melihat atap bangunan rumah warga sudah banyak yang menggunakan bahan genteng dan mengunakan listrik. Ternyata, wilayah itu merupakan bagian kampung adat dukuh luar yang mulai memisahkan diri dengan kampung adat dukuh dalam. Setibanya di kampung dukuh dalam, mahasiswa pendidikan sosiologi KKL Garut ini, di sambut baik oleh pupuhu (ketua adat) dan warga. Setelah di jamu, kami melakukan kegiatan ngagunem (ngobrol santai) bersama pupuhu yang biasa di sebut Mama. Menarik sekali karena pertanyaan-pertanyaan yang kami lontarkan menggunakan teknik snowball, saling menyaut dan mengalir sehingga kami mendapatkan informasi yang banyak serta lengkap yang datang langsung dari pupuhu kampung adat dukuh ini. 
         Sejarah kampung adat dukuh ini terdiri dari 2 sumber, yaitu secara lisan dan tulisan. Sejarah secara lisan, bermula pada Syekh Abdul Jalil yang sejak kecil memiliki kelebihan telah mampu pergi ke berbagai mancanegara dan Mekah. Beliau di didik di Mekah dari kecil sampai dewasa, hingga mumpuni ilmunya, lalu beliau di beri tugas oleh gurunya agar kembali ke Jawa. Setelah itu, kisah ini menjadi tertulis saat perjalanan Syekh setibanya pulang ke Jawa. Beliau sempat ke Mataram dulu, dan ditawari sebagai ketua agama di Sumedang. Namun, Syekh mengajukan 2 syarat yaitu pemerintah dan rakyat harus bersatu serta harus menggunakan hukum syara. Namun, baru beberapa tahun beliau menjabat sebagai ketua agama, dan salah satu anggota pemerintahannya ada yang melanggar hukum syara. Akhirnya, Syekh memilih mengundurkan diri dari jabatan ketua agama. Beliau pindah ke Cikajang sekitar 3-4 tahun, lalu pindah ke Pameungpeuk, dan beliau melihat cahaya di tanah Pameungpeuk, hingga daerah ini menjadi sebuah kampung adat dukuh, tanah adat, tanah muhayat. 
               Warga kampung dukuh ini memeluk agama islam yang bermadzhab syafi’i, masyarakatnya terlihat sangat religius dan menjalankan syariat islam secara baik. Hal ini terlihat pada pantangan-pantangan bahwa perempuan dan laki-laki tidak boleh berdekat-dekatan harus ada hijab, serta kegiatan keagamaan pada anak-anak yang masih bersekolah rutin dilaksanakan di masjid dan madrasah, sekalipun itu hari minggu kegiatan keagamaan tetap berjalan sebagaimana hari biasa dilaksanakan, namun pada hari minggu, kegiatan keagamaan mengkaji kitab suci Al-Qur’an dilaksanakan pada pagi hari hingga pukul 07.00 WIB. Adapun bentuk bangunan rumah di Kampung Dukuh berbentuk persegi, hal ini melambangkan pada 4 madzhab yaitu, Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Hambali, dan Imam Hanafi. Setiap tanggal 14 maulud melakukan ritual penanaman cai (penanaman air), ritual ini berfungsi untuk menjaga dan melestarikan air, karena semua manusia di bumi ini membutuhkan air. Setelah ngagunem, kami melakukan wawancara pada warga dengan cara menyebar sesuai dengan kelompoknya masing-masing. Keesokan harinya, kami berpamitan dengan pupuhu dan warga kampung dukuh, sebelum kembali ke Bandung, kami berjalan-jalan dahulu di pantai, dari pantai Santolo menyebrang menaiki perahu dayung menuju pantai Sayang Heulang, perjalanan melelahkan kami terbayar oleh ramahnya penerimaan warga kampung dukuh dan bermain-main di pantai bersama.
Published: By: An-Najm - 00.19

Sabtu, 18 Juni 2016

Medium


Puisi itu medium
Begitulah kuciptakan
Tuk hangatkan tubuhmu
Puisi itu clairvoyant
Begitulah Sapardi Djoko Damono ungkapkan
Medium bagiku ; cinta
Adakah mediummu, untukku?
Ya....untukku....
Published: By: An-Najm - 23.57

Minggu, 12 Juni 2016

Memuliakan Pelita “Guruku”

                                                               Memuliakan Pelita
                                                                     “Guruku”

                                                         Oleh : Anis Najmunnisa
                                                  Mahasiswa Pendidikan Sosiologi
                                                  Universitas Pendidikan Indonesia



                                           Dengan kebaikanmu, aku memperhatikanmu
                                           Tiap hari kamu menanamkan benih-benih
                                           Dengan motivasi dan pengalaman hidupmu
                                          Agar kutahu, agar kutumbuh dan agar kusukses
                                                               Chairil Anwar






           Ibarat sebuah cahaya guru adalah penerang, penuntun, pendidik, dan penyampai ilmu. Mendidik dari yang tidak tahu menjadi tahu, tidak bisa menjadi bisa, tidak mengerti menjadi paham, tergesa-gesa menjadi sabar. Dialah seorang guru yang patut dimuliakan dan dihormati, renungkanlah sabda Rasulullah saw. Ini, “Pelajarilah ilmu, pelajarilah ilmu dengan ketenangan dan sikap hormat serta tawadhu’lah kepada orang yang mengajarinya.” (HR. Thabrani). Sifat tawadhu adalah pengantar kepada pencapaian ilmu, ketinggian sifat mulia dan kehormatan diri. Apabila berbicara mengenai ilmu, maka erat kaitannya dengan sosok tokoh penting didalamnya, dia adalah guru, sosok yang berusaha mengajarkan dan memberikan yang terbaik untuk muridnya. 
             Melihat fenomena yang terjadi, guru yang harusnya menjadi sosok yang dimuliakan, jarang lagi dihargai, berita mengiris hati silih berganti, pemenjaraan dan penahanan guru akibat memperingatkan muridnya menjadi naas pertikaian yang berujung pada sikap tidak terima orang tua murid dan berakhir di balik jeruji tahanan. Guru di negeri ini begitu berjuang, menebarkan ilmu, membenahi akhlak, tak jarang di cap negatif oleh lingkungan akibat ulah perilaku menyimpang dari pelajar. Guru, tugasmu tidaklah mudah, lebih-lebih lagi di era dunia tanpa batas ini, menuntut pengorbanan dan komitmen. Upaya mendidik jangan hanya dilimpahkan pada seorang guru di sekolah saja, namun harus dibarengi dengan dukungan orang tua yang sejalan dengan didikan guru disekolah. Apabila guru mengatakan A, maka orang tua di rumah pun harus senada mengatakan A. Hal ini, akan membentuk kualitas kepribadian yang baik bagi anak. 
            Sebuah kisah haru seorang guru dan murid yang datang dari Teddy Stoddard murid kelas 5 SD dan gurunya yang bernama Mrs. Thompson. Sebagaimana dia berdiri di depan kelas untuk anak-anak, sebagaimana kebanyakan guru juga akan melakukannya. Bahwa dia melihat semua muridnya dan berkata bahwa dia menyayangi mereka dengan cara yang sama. Mrs. Thompson terkejut ketika melihat catatan guru sebelumnya, bahwa Teddy adalah seorang anak yang periang juga cerdas. Berbeda dengan yang ditampakannya, bahwa Teddy adalah seorang siswa yang malas, cuek, sulit bergaul, dan berpakaian lusuh. Saat itu, Mrs. Thompson menyadari sebuah masalah serius dan menjadi malu akan dirinya sendiri, saat pemberian kado hadiah Natal, Teddy membungkusnya dengan kertas cokelat yang buruk, isi kado pemberian Teddy adalah sebuah botol parfum yang telah kosong setengahnya. Teddy Stoddard tinggal agak lama di sekolah hari itu hanya untuk mengatakan Mrs. Thompson, hari ini anda mencium parfum di tangan seperti yang sering dilakukan oleh Ibuku. Ketika anak-anak pulang, Mrs. Thompson menangis kurang lebih satu jam. 
            Waktu terus beranjak, hingga Teddy telah menjadi seseorang yang sukses, dan Mrs. Thompson adalah guru terbaiknya sepanjang masa. Mereka berpelukan satu sama lain, dan Dr. Stoddard berbisik kepada Mrs. Thompson. Terima kasih Mrs. Thompson telah percaya padaku, anda telah membuat aku merasa penting bahwa diriku bisa membuat perubahan. Mrs. Thompson dengan airmata membalas Teddy, kamu salah kamu sebenarnya yang mengajariku bahwa menjadi seorang guru bisa membuat perubahan, dan Aku tidak menyadarinya setelah aku bertemu denganmu. Sepenggal kisah diatas, mengilustrasikan bagaimana seorang guru mencintai muridnya, dan muridnya memuliakan seorang gurunya, hingga ia benar-benar meraih kesuksesan dalam pendidikannya. 
      Untuk mendapatkan keberkahan ilmu dalam pendidikan, hendaklah seorang murid memperhatikan adab-adab untuk memuliakan dan menghormati guru, (dalam Beauty Jannaty, Keisya Avicenna, 2013 : 167 ). 
1. Bersikap menuruti perintah dan nasihat guru serta meminta pendapat dan bimbingan guru dalam suatu urusan. 
2. Memandang guru dengan perasaan penuh hormat dan takzim. 
3. Tidak sekali-kali bersikap saling berbantahan ataupun denat yang tidak baik dengan guru.
4. Berterima kasih kepada guru atas segala ilmu yang telah diajarkan dan atas bimbingannya terhadap segala kebajikan. Begitu juga, dengan tegurannya atas segala kekurangan atau kemalasan yang pernah kita lakukan.
5. Ketika sedang belajar, senantiasa menunjukkan adab terhadap teman-teman sekelas dan siapa saja yang menghadiri majelis ilmu.
6. Ketika duduk di hdapan guru ketika belajar, duduklah dengan penuh tawadhu’, khusyu’, dan tenang. 
7. Menjaga sopan santun ketika berbicara dengan guru, tidak menggunakan bahasa yang menyinggung perasaannya, dan tidak memotong pembicaraan. 
8. Tidak malu untuk bertanya mengenai sesuatu yang belum jelas atas apa yang diajarkan oleh guru. 

      Memuliakan guru itu mudah, mengamalkan kebaikan, mengundang keridhoan Alloh SWT, langkah dan cita-cita akan mudah tercapai, melalui didikan pewaris ilmu, menularkan budi pekerti yang agung dan mulia pada para generus bangsa ini, yang sedang prihatin dengan kondisi gurunya. Guru adalah pelita, aspirasi, inspirasi, yang harus dimuliakan.
Published: By: An-Najm - 05.23

Senin, 23 Mei 2016

Keyakinan

Keyakinan
Oleh : Anis Najmunnisa
Mahasiswa Pendidikan Sosiologi
Universitas Pendidikan Indonesia

Adalah hal terpenting yang harus dimiliki seorang manusia dalam menjalani kehidupan. Keyakinan menjadi roda penggerak kemana seseorang akan melangkah, mengambil keputusan, dan menetapkan tujuan hidup. Nabi Ibrahim mengajarkan kepada kita, akan kuatnya keyakinan pada Tuhan, bagaimana beliau mencari Tuhan, hingga peristiwa yang akan membakar dirinya. Namun, ketawakkalannya pada Tuhannya, api tidak mampu membakar tubuhnya. Keyakinan menaruh harapan besar, apabila kita mampu memilah-milah antara ketidakmungkinan menjadi kemungkinan yang dapat diwujudkan melalui impian, usaha, dan doa.
Telah banyak langkah untuk mencapai tujuan, kita bisa mengikuti jejak mana yang akan kita ikuti, untuk meraih impian-impian emas yang tertanam dalam lubuk hati. Tetap percaya pada Tuhan, bukan mustahil Tuhan memperlihatkan mukzizat-mukzizat-Nya. Langkah sederhana yang bisa dilakukan, siapkan alat tulis kertas dan bolpoint, tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan, tuliskan 5 hal yang ingin dicapai, simpan di tempat yang mudah dilihat, baca setiap kali akan tidur, lakukan hal ini untuk beberapa hari ke depan dan rasakan kekuatan energi bertambah untuk melakukan tujuan.
            Ketika diri mulai merasakan lelah dan berat saat berani mengambil langkah demi langkah mencapai harapan, percayalah bahwa hal ini tidak akan lama, semakin sering diulangi dan dilakukan, otak akan memproses dan menginstall suatu kebiasaan baru. Ibarat menginstall sebuah aplikasi di komputer atau laptop, saat proses install membutuhkan waktu persen demi persen terus bertambah. Hingga, ketika aplikasi telah terinstall, dengan mudah kita hanya tinggal membuka untuk memainkan aplikasi yang telah diunduh. Kuota yang harus dibayar untuk menginstall kebiasaan baru adalah keberanian kita melepas kebiasaan lama. Mudah, terlampau banyak tokoh yang bisa disebutkan dan telah mencapai kejayaannya. Hidup dengan penuh keyakinan pada Tuhan adalah energi besar dalam diri manusia, bila di genggam ia tak akan melukai ataupun menyakiti, bila harapan tidak tercapai, pikiran dan hati akan mengalihkan pada rencana Tuhan yang tidak diketahui, tak akan pernah dzalim sedikit pun.

Senin, 23 Mei 2016

Published: By: An-Najm - 22.36

Sulthan Muhammad Al-Fatih

 
Sulthan Muhammad Al-Fatih

Resensi Buku
Oleh  : Anis Najmunnisa
Mahasiswa Pendidikan Sosiologi
Universitas Pendidikan Sosiologi

Judul               : Sulthan Muhammad Al-Fatih
Pengarang       : Dr. Ali Muhammad Ash-Salabi
Tahun terbit     : 2011
Tebal halaman :  1-296 hlm
Penerbit           : Pustaka Arafah

  “Konstantinopel benar-benar akan ditaklukkan oleh seorang laki-laki. Sebaik-baik amir (orang yang memerintah) adalah amir yang memimpin penaklukannya dan sebaik-baik tentara adalah tentara yang menaklukannya.” (HR Al-Bukhari, Ahmad, dan Al-Hakim).  Pengarang buku Sulthan Muhammad Al-Fatih, Dr. Ali Muhammad Ash-Salabi, tertarik untuk menuliskan sejarah peradaban kejayaan Islam yang pernah berkembang. Kejayaan ini merupakan sepak terjang peran Daulah Utsmaniyah dalam memperebutkan Konstantinopel yang merupakan kota kebanggaan kaum salibis, pada abad pertengahan peristiwa ini menjadi mercusuar peradaban, khususnya untuk kemenangan dan penyebaran islam.
Umat yang tidak tahu sejarah akan kehidupan pendahulunya yang gemilang akan kehilangan arah dan jati diri. Penenggelaman besar-besaran sejarah emas Islam berdampak pada kehidupan kaum muslimin, yang saat ini lemah dalam berbagai aspek sisi kehidupan. Dalam bukunya yang berisi 296 halaman ini, pengarang ingin mencuatkan kembali sejarah kemenangan yang pernah diraih oleh para pejuang islam, agar kaum muslimin dapat mencontoh berbagai sifat kepemimpinan dan muamalah kehidupan yang bersumber dari ajaran Islam. Penulis memaparkan silsilah kepemimpinan Daulah Utsmaniyah yang berawal dari Utsman I, Orkhan, Murad I, Bayazid I, Muhammad Jalabi, Murad II, dan Muhammad Al-Fatih. Penulis lebih memfokuskan pada kepemimpnan Sulthan Muhammad Al-Fatih,
  Adapun metodologi yang digunakan dalam mengkaji materi berasal dari penulisan sejarah Islam dan interpretasi peristiwa-peristiwa yang diambil dari prinsip-prinsip Islam dan sumber-sumbernya. Menurut metodologi Islam, interpretasi peristiwa-peristiwa sejarah bukanlah interpretasi yang bersifat justifikasi. Akan tetapi, interpretasi itu memperlihatkan karakteristik iman yang melebihi perkara lainnya. Pergerakkan kepemimpinan Daulah Utsmaniyah merupakan suatu proses panjang dalam memperebutkan Konstantinopel, setiap kepemimpinan telah berusaha mengupayakannya. Namun belum berhasil, sempat Sulthan Bayazid I mengambil alih Konstantinopel kedalam kekuasaan Daulah Utsmaniyah, namun tidak berlangsung lama akibat adanya bentrok dari Timur Lenk dan Bayazid, hingga perang saudara memperebutkan kekuasaan.
  Setelah Muhammad I dapat mempersatukan kembali Daulah Utsmaniyah dan menghentikan perang saudara, ia mulai menata kembali pundi-pundi yang pernah terjalin dan terikat kuat dalam negaranya. Ia dikenal sebagai sosok pemimpin muda yang cerdik, diusianya yang ke-18 tahun, warga memberikan gelar pagar bagi Islam kaum muslimin. Hingga sampailah pada kepemimpinan turunan ke- 7 dalam silsilah keluarga Utsman, diusianya yang ke- 22 tahun, ia diangkat menjadi pemimpin, dialah Sulthan Muhammad Al-Fatih yang berarti sang penakluk. Ia berhasil menggabungkan antara kekuatan dan keadilan, cerdik dalam pemikirannya, menguasai banyak bahasa, menyukai sejarah, administrasi dan sastra. Ia mendapatkan dorongan motivasi dari gurunya, bahwa dialah pahlawan pemimpin perang yang dimaksudkan dalam sabda nabi meraih Konstantinopel, semenjak saat itulah semangatnya menggebu untuk memperjuangkan dan berdakwah jihad fi sabilillah di jalan Alloh.
  Ia ingin merebut Konstantinopel dan menjadikannya sebagai ibu kota Daulah Utsmaniyah. Konstantinopel adalah sebuah kota yang terletak di daerah Byzantium, namanya diubah menjadi Islambul atau Istanbul. Kota yang didirikan oleh kaisar Byzantium, Constantine I pada 330 M. Ada yang mengatakan “Seandainya dunia ini menjadi satu kerajaan, tentulah Konstantinopel paling layak sebagai ibu kotanya.”  Penulis memaparkan bahasan dengan menggunakan bahasa yang lugas, dan dapat diserap maknanya, serta mengkaitkan dengan kisah-kisah para sahabat lainnya yang memiliki kisah atau pendukung kesamaan lainnya, serta dlengkapi dengan penjelasan ayat-ayat Qur’an beserta Hadist-hadist Rasul.
Biografi para Khilafah Daulah Utsmaniyah menjelaskan kepada kita bagaimana perasaan mulia mereka dengan islam, kecintaan mereka kepada Al-Qur’an, dan persiapan mereka menghadapi kematian fi sabilillah. Mereka hidup penuh berkah dan kebaikan, mereka mendapatkan semua itu dengan agama Alloh. Alloh Ta’ala berfirman “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al-A’raf [7] : 96) Hal 226. Semoga buku Sulthan Muhammad Al-Fatih, mampu menumbuhkan kepercayaan dan semangat menyebarkan agama Alloh bagi kaum muslimin, Aamiin.

Published: By: An-Najm - 22.21